 | Berbagi Bersama Saya | Aug 17, 2005 |
Terima kasih sudah mengunjungi 'ruang' saya. Ruang ini adalah tempat saya menumpahkan segala rasa, kesedihan saya, kebahagiaan saya, dan kepedulian saya.  | No Title | Oct 22, '08 4:24 AM for everyone |
Ah...susahnya menepati janji Susahnya jujur pada diri sendiri...
******** Tak ada yang harus kita sesali semua indah yang pernah kita alami meskipun terbatas dan tak mungkin terikat janji abadi
Aku, dirimu, dirinya tak akan pernah mengerti tentang suratan aku, dirimu, dirinya tak resah bila sadari cinta takkan salah
Andai waktu bisa kita putar kembali jalinan cerita mungkin tak begini
Meskipun terbatas saling pandang dan tak akan lebih lagi
Tentang suratan dirinya untukku hadirnya tak akan aku sesali
Cinta takkan salah..........
Cantik di dalam sama pentingnya dengan cantik di luar. Beda pakai pakaian dalam yang cantik, seksi, dan mewah (baca: mahal), kurang lebih sama dengan bercinta setelah marahan dan bercinta saat kelelahan. Bercinta setelah marahan selalu terengah-engah dan menggairahkan sedangkan bercinta saat kelelahan sering mengecewakan, asal cepat selesai. Begitu hebohnya cerita Hafida tentang kegilaannya pada pakaian dalam (lingeri) yang seksi dan mewah. Bagi wanita yang suka berbicara cepat itu, meski letaknya tersembunyi, pakaian dalam bahkan jauh lebih penting daripada busana luar. Ia lebih suka tampil cuek dan biasa saja (tanpa perlu mengikuti tren) dalam berbusana, tapi tidak jika urusannya sudah menyangkut lingeri. “Saya akan berpikir 20 kali untuk membeli seharga Rp 200.000 sampai Rp 300.000 sekalipun baju itu bagus sekali, tapi saya tidak akan berat hati membeli bra supercantik seharga sama,” tegas ibu dari satu putri itu. Setiap wanita selalu memiliki prioritas masing-masing demi mendongkrak rasa percaya diri dan merasa sebagai makluk Tuhan yang paling seksi. Ada yang memilih menghias diri dengan busana dan sepatu supermahal, tas cantik dan mewah, atau bahkan dengan produk dan perawatan kecantikan hingga puluhan juta rupiah. Namun bagi Hafida, Niken Ratih, dan gadis lajang berusia 23 tahun berinisila Erta, lebih memilih mempercantik diri lewat koleksi bra dan lingeri yang seksi dan cantik meski itu berarti mereka harus merogoh kocek dalam-dalam. Bagi mereka, memilih pakaian dalam urusannya tak sekadar kenyamanan tapi juga memompa rasa percaya diri dalam penampilan dan menyuburkan perasaan makin cantik meski harga mahal juga identik dengan kenyamanan. “Sejauh ini, pengalaman menunjukkan kalau harga itu mengikuti kualitas. Aku memang dibilang addict (mencandu) merek-merek bra tertentu karena yang pasti nyaman dan modelnya cantik dan yang pasti harganya juga tidak murah,” ujar Niken Ratih, staf marketing sebuah radio swasta bersegmen pendengar wanita di Surabaya. Berbelanja pakaian dalam masuk agenda Ratih, sapaannya, minimal sebulan sekali ketika jalan-jalan ke mal. Jika beberapa merek favoritnya mengeluarkan model bra baru, tanpa pikir panjang menghabiskan tujuh hari tujuh malam, Ratih langsung main sambar. Bahkan ia lebih rela tidak mengikuti tren busana termutakhir dibanding kehabisan stok model terbaru bra merek favoritnya. Ketika kantongnya sedang penuh, Ratih pun tak sayang merogoh lembaran uang hingga Rp 400.000 demi membawa pulang bra impiannya. Berbelanja bra juga diakuinya sebagai hobi yang menyenangkan. “Untung suamiku nggak pernah protes dan kadang mau saja mengantar aku dan ikut kasih pertimbangan bra itu cocok nggak buat aku,” kata Ratih yang mengaku menyukai model bra berenda dan setengah cup. Pierre Cardin dan Women Secret adalah dua merek favoritnya. Karena bra koleksi dua merek itu menurut Ratih, tidak hanya sekadar nyaman saja tapi juga modelnya yang superseksi tak ada bandingannya. Suka yang Matching Bra dan celana dalam yang matching adalah syarat utama bagi gadis yang ingin disebut dengan nama Erta saja. Sejak pertama kali memakai bra sungguhan, bukan miniset (sebutan untuk bra model di kelas dua SMP, sang mama selalu membelikan bra dan celana dalam sepasang. Kebiasaan itu terbawa hingga Erta dewasa sehingga gadis berkulit kuning langsang ini belum merasa sreg jika tidak mengenakan bra dan celana dalam atau G-string yang matching. “Kalaupun misalnya bra-nya nggak ada pasangannya (celana dalam), biasanya saya suka nyari celana dalam yang modelnya mirip. Ibaratnya kalau saya pakai tas kuning maka harus pakai sepatu kuning juga, baru lega,” ujarnya terkekeh. Itu pula sebabnya, koleksi pakaian dalam Erta lebih banyak yang bermerek dengan harga termurah Rp 100.000 (untuk bra saja). Karena biasanya pakaian dalam bermerek lebih banyak menyediakan koleksi satu set terdiri dari bra dan celana dalam. Women Secret, La Senza, dan Triumph (dulu), adalah beberapa merek koleksi pakaian dalamnya. Ada pula beberapa koleksi bra dan celana dalamnya yang tak bermerek (terkenal) tapi tetap sepasang dan berwarna cerah, seperti kuning, hijau muda, merah muda, jingga, atau keemasan. “Bra yang nyaman membuat aku tampil percaya diri. Jangan sampai kena krisis pede apalagi payudara jadi melorot gara-gara pakai bra sembarangan,” tegasnya.
Hem.....meski saya perempuan, soal bra atau lingerie memang nggak seheboh teman-teman saya di atas. Saya lebih gila sepatu, tas, dan baju. Uang Rp 200.000-300.000 buat beli bra? Mending beli tas atau sepatu yang bagus. Tapi kalau harga masih di bawah itu sih okelah. Tanpa bra nan seksi dan mewah (baca: mahal), saya sudah merasa cantik dan seksi. Hemm........ Pemilihan Gubernur Jawa Timur putaran II makin dekat. Siap-siap lagi datang ke TPS buat mencoblos. Selasa 4 November 2008 nanti. Jika pilgub putaran pertama kemarin saya diliputi kebimbangan meski pada akhirnya mencoblos salah satu pasangan juga, pilgub putaran kedua saya malah tidak tahu akan pergi ke TPS atau tidak. Mungkin kalau kartu pemilih saya sudah dibagikan seminggu sebelumnya, saya akan mencoblos di Surabaya, tapi kalau dibagikannya mepet mungkin saya tidak akan mencoblos (maaf saya bukan provokator golput). Pikir-pikir, jauh di lubuk hati saya, sebenarnya tidak ada satupun pasangan calon yang bisa meyakinkan saya. Sebabnya, tidak ada satupun dari mereka yang berani berteriak lantang soal lapindo. Tidak ada yang mengeluarkan statement keras tentang lapindo. Semua bertekut lutut pada Bakrie dengan korporasi raksasanya. Selidik punya selidik, ada kabar sampai di telinga jika Bakrie Inc. menggelontorkan dananya untuk beberapa kandidat terkuat cagub Jatim. Bukan cuma ke satu pasangan saja. Nah, kalau kemudian di pilgub putaran kedua hanya ada dua pasangan calon, sebenarnya 'sama saja.' Mau coblos salah satu ya sama saja wong donaturnya juga sama. He..he.... Seorang ibu pejabat bilang kalau tidak mungkin calon yang bukan dari kalangan birokrasi bisa sukses memimpin Jawa Timur. Alasan tidak punya pengalaman ia dengungkan yang berarti bahwa dia menilai yang sudah berpengalaman dianggap lebih mampu. Lha Bu, kalau semuanya urusannya pengalaman, sama dengan Orde Baru. Ini sama saja dengan menutup kesempatan orang-orang baru dengan pemikiran baru dan revolusioner. Pantas saja kalau di Indonesia ini pengangguran banyak terutama para sarjana yang baru lulus. Lha wong semua perusahaan yang membuka lowongan selalu menyertakan persyaratan sudah berpengalaman? Wah, si pejabat masih bersikukuh dengan pendapatnya (saya maklum karena ibu itu kan seorang birokrat juga jadi jangan harap berpikir revolusioner), bahwa Jawa Timur harus dipimpin gubernur yang berpengalaman dalam urusan birokrasi. Wah, kalau begini jangan berharap ada kemajuan berarti buat Jawa Timur. Jangan harap para pejabat yang selama ini sudah terlalu enak di kursinya termasuk para pensiunan yang minta perpanjangan masa jabatan 'dibersihkan.' Sampai saat ini, hati masih diliputi kebimbangan. Sekali lagi, kemungkinan besar saya tidak akan berangkat ke TPS di hari H pencoblosan. Saya akan mencoblos salah satu kalau ada dari pasangan calon itu yang berani menggertak dan menindak tegas Bakrie Inc yang bikin susah rakyat Porong yang ditenggelamkan lumpur Lapindo. Tidak ada urusannya dengan gender karena meski calonnya perempuan, kalau nggak idealis dan nggak punya keberanian menggilas perusahaan nakal yang bikin rusak lingkungan dan menyusahkan orang banyak hanya karena punya duit berdolar-dolar, ya sama saja. Saya tidak akan memilihnya! Saya juga tidak pernah bangga dengan Megawati meski si ibu adalah presiden wanita pertama di Indonesia. Soalnya si ibu naik pangkat jadi presiden bukan karena sukses merebut hati rakyatnya tapi karena sang presiden sebelumnya, Gus Dur, terdepak (yang pasti karena konspirasi). Saya bangga dengan si ibu jika si ibu ini memenangkan pemilu yang berada di tangan rakyat. Toh, nyatanya ketika ikut berlaga dalam pilpres langsung dengan rakyat sebagai penentunya, ia harus bertekuk lutut pada si ganteng dan gagah (ini katanya tim suksesnya waktu itu). Jadi, Ka-ji atawa Kar-Sa, tak satupun yang memikat hati. Terkecuali kalau salah satu dari pasangan calon itu menunjukkan kegarangannya dalam menindak tegas pelaku perusakan lingkungan tanpa pandang bulu.. eh duit!
PROTES NIH: Buat apa Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur ikut-ikutan kampanye terselubung buat salah satu calon gubernur? Kurang kerjaan. Lupa ya, Pak kalau Anda ini PNS dan nggak boleh menunjukkan keberpihakan di muka umum? Pak, kasih contoh yang baik dong, bukannya malah ikut-ikutan berkampanye!
Belakangan jadi agak muak, nih melihat judul-judul sinetron di televisi. Apa itu? Munajah Cinta, Sajadah Cinta, Assalamualikum Cinta, hem....apalagi ya..pokoknya yang belakangnya pakai embel-embel kata cinta. Nggak kreatif banget ya?!? Analisa pribadi nih, gejala judul serba cinta tapi dibungkus dengan nuansa Islami (maksudnya yang pemerannya pakai kerudung gitu..) gara-gara ketenaran film layar lebar Ayat-Ayat Cinta. Ya, film itu sukses menjadi sebuah demam baru. Demam serba islami. Males banget lihat para pemerannya yang di sinetron pakai kerudung (saya lebih suka menyebut kerudung daripada jilbab). Lantas berlaku alim. Wah, kayaknya salah kaprah deh menuangkan nuansa Islami dalam jalinan cerita yang menurutku sama sekali nggak Islami. Cuma di bungkusnya saja. Biasalah...di Indonesia ini (baca: di panggung hiburan) yang namanya demam latah adalah hal lumrah. Kalau ada satu saja yang sukses menyedot perhatian pemirsa dan ratingnya naik, pasti dan dijamin, deh, yang lain bakal mengekor. Dulu banget, pertama-tama TPI bikin sinetron lepas bertema religi yang model-model siksa kubur, siksaan saat sakaratul maut, yang diangkat dari kisah nyata dari majalah Islam. Ternyata penontonnya makin banyak dan diikuti dengan stasiun televisi lain. Beda kemasan aja dan beda modal tentunya. Habis itu, yah...satu persatu musnah tapi TPI masih menayangkan cuma nggak sesering dulu. Kayaknya sih pagi sekitar jam 10-an gitu. Makin nggak kreatif orang-orang televisi. Bikin tayangan kok latah dan berbekal demi rating! Sayang banget.
Minggu, 5 Oktober kemarin, saya pulang ke Surabaya setelah sepekan menghabiskan jatah cuti lebaran. Saya dan Abi naik kereta api Sembrani kelas eksekutif yang berangkat dari stasiun Jakarta Kota. Sembrani datang 10 menit sebelum jam keberangkatan 18.30 WIB seperti yang tertulis di tiket. Olala, saya dan beberapa penumpang sedikit kaget ketika masuk ke gerbongnya. Gerbongnya bagus dan baru dengan warna dominan krem dan jingga pada interiornya. Kursinya pun baru dengan bahan kulit yang nyaman dan empuk (bukan dari kain yang biasa pada jok kursi kereta eksekutif dengan bantalan busa yang tepos alias kempos). Wah, saya pun tersenyum dan membayangkan betapa nyamannya perjalanan pulang kami dalam kereta api yang nyaman. Sayang, perjalanan menuju Jakarta dengan Sembrani tidak senyaman perjalanan pulang dari Jakarta ke Surabaya. Brr....mungkin karena kereta masih dalam kondisi baru, pendingin ruangannya juga dalam kondisi prima alias dingin sekali. Sialnya, saya lupa membawa kaos kaki yang tebal karena lupa kalau akan naik kereta api eksekutif. Pukul 21.30 WIB, mata kami sudah tak dapat menahan kantuk. Ruangan sangat dingin tapi selimut jatah penumpang belum juga dibagikan. Padahal, saat kami berangkat, pukul 20.30 WIB selimut sudah mulai dibagikan pada penumpang. Entah berapa menit kemudian, seorang petugas membagikan selimut. Tahu tidak caranya si petugas membagikan selimut? Setengah dilempar. Si Abi sampai kaget dan terbangun gara-gara lemparan selimut itu. Saya pun ikut kaget karena dalam kondisi lelap, saya masih merasakan selimut diletakkan dengan kasar di pangkuan kami. "Hem, kelas eksekutif pelayanan kelas ekonomi," ujar Abi dengan nada menyindir. Saya hanya geleng-geleng kepala. Yah, beginilah pelayanan kereta api. Terlambat, petugas yang kurang sopan, dan sederet minus yang mengurangi segala fasilitas yang seharusnya membuat penumpang nyaman. Alangkah baiknya jika petugas-petugas itu diberikan pelatihan tentang etika pelayanan kepada penumpang yang sekarang sudah diganti dengan pelanggan. Bukan hanya sekadar sapaan selamat pagi, siang, atau malam saja, yang seperti hanya sekadar lips service alias manis di bibir. Saya jadi ingat cerita Bu Indayati Oetomo, Direktur Internasional John Robert Powers Surabaya. Berbagai perusahaan jasa di Indonesia ini masih banyak yang belum punya standar pelayanan yang bagus. Mereka hanya diajari etika membeo. Maksudnya hanya sekadar sapaan lips service tanpa dibarengi ketulusan hati melayani. "Selamat datang, selamat menikmati fasilitas kami." "Terima kasih sudah berbelanja di tempat kami. Silakan datang kembali." "Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" Sapaan keramahan itu mestinya diucapkan dengan ekspresi wajah menyenangkan dan senyum alami tanpa dipaksakan. Kita pasti bisa membedakan keramahan 'palsu' dan keramahan yang tulus. Ah, saya jadi ingat beberapa kejadian sering saya temui. Kasir yang hanya berucap terima kasih tanpa memandang si pembeli, pun dengan ekspresi wajah tak peduli atau setengah cemberut. Ah, sudah biasa. Jadi, salah kalau dibilang orang Indonesia ini ramah-ramah. Saya agak sulit membenarkan anggapan itu karena kenyataan yang kerap saya temui tidak seperti itu. Ramah? Di jalan saja masih banyak pengendara yang suka main klakson, motong jalur seenaknya, sama sekali enggan memberi jalan orang yang akan menyeberang atau putar arah, atau bahkan mengumpat pengendara lain padahal dia sendiri yang salah. Kembali ke kereta api sembrani. Ada kejadian aneh bin lucu yang terjadi ketika kereta sampai di Jatinegara. Tiga penumpang yang terdiri dari wanita muda, dan dua remaja putra dan putri naik dari stasiun Jatinegara. Mereka celingak celinguk di gerbong nomor empat dan mencari nomor kursi seperti yang tertera di tiket. Nomornya 1 A dan B serta 2 C. Lho, sudah terisi. Seorang petugas menanyakan nomor kursi mereka (tanpa keramahan yang semestinya). Tiga penumpang baru (sekeluarga) itu menunjukkan tiket mereka. Seorang kondektur pun menghampiri dan memeriksa tiket. Benar. Mereka harusnya yang duduk di tiga kursi itu. Eh, ibu tua yang duduk di kursi 2C ngotot dan menyarankan pada si kondektur untuk memindahkan penumpang baru itu ke kursi lain. Saya dan beberapa penumpang lain mengamati. Si ibu tua itu sama sekali tidak diminta kondektur menunjukkan tiketnya. "Ah, ya, pasti ibu tua itu penumpang titipan. Biasalah, paling kerabatnya orang PTKA," gumam saya sembari geleng kepala. Dua pria yang menempati kursi 1A dan B pun pindah ke gerbong belakang tanpa protes. Oh, rupanya dua pria itu penumpang gelap dan pasti juga penumpang titipan. Kalau tidak, tentu dua pria itu sudah didenda karena tidak punya tiket. Tiga penumpang baru dengan tiket resmi mengalah. Salah satunya terpaksa mengalah demi si ibu tua dan duduk di kursi lain di gerbong depan. Ah, kalau saya jadi dia, saya tidak akan mau mengalah karena saya punya tiket resmi. Kalaupun harus bertengkar di gerbong dengan petugas, saya bela-belain. Ck..ck... saya terheran-heran. Inikah yang namanya kereta api eksekutif? Harap maklum! Ini di Indonesia!  | Mudik | Sep 28, '08 10:26 AM for everyone |
Jika dalam beberapa hari ini tidak ada postingan baru, harap maklum karena saya mudik. Tahun ini saya harus mudik ke rumah mertua di Parung, Bogor. Jauh? Ah, tidak karena perjalanan yang akan saya tempuh bersama Abi sangatlah menyenangkan. Tahun lalu saya tidak bisa mudik. Cuma Abi saja yang mudik. Tahun lalu, kebetulan rezeki kami belum berlebihan sehingga terpaksa berhemat. Mertua untungnya pengertian. Tapi tentu saja alasan saya yang utama adalah karena tidak bisa cuti. Tahun lalu, dua rekan se-tim saya dalam keadaan hamil. Satunya sudah cuti dua hari sebelum lebaran dan bersambung cuti hamil, satunya lagi mudik. Saya mengalah karena kebetulan saya sendiri sedang malas mudik. Akhirnya saya mudik ke rumah orangtua saya. Cuma libur tiga hari, ya lumayanlah. Begitu masuk kantor sudah berhadapan lagi dengan pekerjaan. Mudik tahun ini saya sambut dengan gembira. Saya sudah tak sabar bertemu dengan dua keponakan saya yang kabarnya (kata mamanya alias adik ipar saya dan menurut cerita mertua) lucu-lucu. Keponakan saya cowok dan cewek dan anak dari dua adik ipar saya. Saya sudah tak sabar ingin jalan-jalan. Rasanya tahun ini kesampaian, deh karena kakak ipar saya yang tinggal bareng mertua beli motor baru. Jadinya itu motor bisa saya pakai sama Abi buat jalan-jalan. Maklum, sebelum ada motor, kami mengandalkan pinjam mobil suami dari adik ipar atau naik bemo. Cuma, saya agak segan membayangkan bertamu. Ya, Abi nanti mengajak saya bertamu ke rumah seseorang di Depok. Wah, saya nanti mau ngapain ya selama Abi ngobrol dengan sang tuan rumah? Omong-omong soal bertamu, saya ini memang nggak betahan kalau bukan teman sebaya atau yang akrab banget. Dulu kalau menemani mama saya bertamu, baru 15 menit saya sudah pengen buru-buru kabur saja. Membosankan. Selesai mudik, saya pasti bawa oleh-oleh. Ya, oleh-olehnya cerita seputar mudik ya. He..he....
Kalau sudah begini, jangan marah jika ada negara lain mengakui-aku kebudayaan Indonesia punya mereka. Nonton film Indonesia saja malas. Bilang nggak keren, ndeso, malu.... Beli baju, tas, sepatu, pilih merek luar negeri. Parfum pilih punya Britney Spears. Dengerin musik artis Barat. Jadi... jangan marah ya kalau Malaysia ngrebut Sinpadan dan Ligitan. Jangan marah ya kalau lagu Rasa Sayange diklaim punya mereka. Jangan marah...jangan marah...Introspeksi diri... Dari seorang sahabat: Minggu lalu, saya jalan-jalan ke Pasar Johar (Semarang). Rencananya, aku hendak membeli batik untuk ibuku di kampung halaman. Ketika tiba di sana aku terkejut sekali. Yang kujumpai malah batik "made in China. "Masuknya batik buatan Cina yang membanjiri Jakarta bukanlah berita baru. Tetapi kenyataan masuknya batik Cina ke sentra penjualan batik lokal baru saya ketahui saat itu. Air mata saya menetes hari itu. Jika batik Cina sudah sampai ke Pasar Johor, lalu bagaimana dengan pasar-pasar lain. Bagaimana dengan nasib pengrajin kecil? "Produk tekstil Cina ini berusaha meniru budaya tradisional asli Indonesia," kata Ketua Paguyuban Pencinta Batik Indonesia Bokor Kencono, Diah Wijaya Dewi। Dampak membanjirnya batik asal China ini sudah dirasakan pengusaha batik yang biasa memasukkan produknya ke pasar tradisional. "Salah satu pengusaha batik cap asal Pekalongan sudah ditolak produknya untuk masuk ke Pasar Johar karena para pedagang sudah memasok batik asal China ini," ujar wanita yang kerap dipanggil Dewi Tunjung ini।Suhartini, penjual batik di Pasar Johar mengakui, mendatangkan batik Cina sejak Febuari dan langsung menyetop penjualan batik asal Pekalongan dan Solo. "Soalnya bahannya lebih bagus, lebih murah, lebih laku dan ketika dicuci tidak luntur" katanya Potret di atas adalah salah satu gambaran permasalahan perlindungan budaya di tanah air. Cerita ini menambah daftar budaya indonesia yang diklaim oleh negara lain, seperti Batik Adidas, Sambal Balido, Tempe, Lakon Ilagaligo, Ukiran Jepara, Kopi Toraja, Kopi Aceh, Reog Ponorogo, Lagu Rasa Sayang Sayange, Kerajinan Perak Bali dan lain sebagainya. Saya sadar bahwa diam tidak akan memberikan penyelesaian. Kita harus bangkit dan melakukan sesuatu. Kemarin saya mendengar tentang upaya perjuangan yang dilakukan IACI . Saya tertarik dengan ide gerakan tersebut. Beberapa kali saya melakukan korespondensi via email ke IACI.  Berbagai menu disajikan untuk berbuka puasa di bulan Ramadan, salah satunya adalah buah kurma. Selain dianjurkan dimakan saat berbuka puasa, ternyata buah ini mengandung banyak manfaat bagi kesehatan. Menurut ahli gizi IPB, Dr Hardinsyah MS, Direktur Klinik Konsultasi Gizi dan Klub Diet IPB, buah kurma mengandung zat gizi yang nyaris lengkap dengan komposisi yang seimbang, meskipun dalam jumlah yang serba sedikit. * Kurma Segar Kurma segar (basah) mengandung kadar air dan vitamin yang lebih banyak tetapi rendah kandungan energi siap pakainya. Kandungan gula pada kurma ini mudah dicerna oleh tubuh. Banyak manfaat kurma basah, antara lain; dapat mengontrol laju gerak rahim, menambah masa systole (kontraksi jantung ketika darah dipompa ke pembuluh nadi), mencegah terjadi pendarahan pada perempuan ketika melahirkan serta mempercepat proses pengembalian posisi rahim seperti sedia kala sebelum waktu hamil yang berikutnya. Hal ini karena dalam kurma segar terkandung hormon yang menyerupai hormon oxytocine yang dapat membantu proses kalahiran. * Kurma Kering Kurma yang tidak segar (kering) tinggi akan kandungan energi siap pakai namun kandungan air dan beberapa vitamin lebih rendah, bahkan kandungan vitamin C-nya hilang. Kurma Kering berfungsi untuk menguatkan sel-sel usus dan dapat membantu melancarkan saluran kencing karena mengandung serabut-serabut yang bertugas mengontrol laju gerak usus dan menguatkan rahim terutama ketika melahirkan. Kandungan Kurma Umumnya buah Kurma mengandung zat-zat berikut Gula (campuran glukosa, sukrosa, dan fruktosa), protein, lemak, serat, vitamin A, B1, B2, B3, potasium, kalsium, besi, klorin, tembaga, magnesium, sulfur, fosfor, dan beberapa enzim. Manfaat Sebagai bahan makanan : Selain dimakan langsung, dikeringkan, juga digunakan sebagai bahan tambahan pada roti, coklat, sereal, penganan ringan, dan lain-lain. Sebagai obat : * Buah kurma dapat mencegah stroke. Buah kurma mengandung vitamin A yang baik dimana ia dapat memelihara kelembaban dan kejelian mata, menguatkan penglihatan, pertumbuhan tulang, metabolisme lemak, kekebalan terhadap infeksi, kesehatan kulit serta menenangkan sel-sel saraf. * Buah kurma yang direbus dapat memperlancar saluran kencing.Buah kurma, baik kering maupun basah dapat menenangkan sel-sel saraf melalui pengaruhnya terhadap kelenjar gondok. Oleh karena itu, para dokter menganjurkan untuk memberikan beberapa buah kurma di pagi hari kepada anak-anak dan orang yang lanjut usia, agar kondisi kejiwaannya lebih baik. * Kurma mengandung potasium yang tinggi. Potasium bermanfaat untuk mengendalikan tekanan darah, untuk terapi darah tinggi, serta membersihkan karbon dioksida dalam darah. * Potasium juga bermanfaat untuk memicu kerja otot dan simpul syaraf. Mengkonsumsi 100 gram kurma, dapat menurunkan kadar kolesterol darah dengan menghambat penyerapan lemak atau kolesterol dalam usus besar sehingga kadar kolesterol dalam darah menurun. * Berbagai mineral yang diperoleh dari kurma bermanfaat untuk mengoptimalkan kandungan elektrolit dalam cairan tubuh. Mengandung zat tannin yang tinggi yang dapat digunakan untuk anti-diare, anti-hemostatis, dan anti-hemoroid. * Obat flu, radang tenggorokan. * Mengatasi mabuk * Meningkatkan thrombosit pada penderita demam berdarah Sumber: Conectique Sudah lama banget saya penasaran dengan makanan bernama Ketoprak. Ya, Ketoprak. Nama untuk makanan yang bagi saya aneh karena kalau di Jawa (baca Jawa Tengah dan Timur), nama Ketoprak itu adalah nama sebuah pertunjukan seni panggung tradisional yang bercerita tentang zaman kerajaan dahulu kala. Lama sekali saya penasaran. Habisnya kalau pulang ke Parung (rumah mertua), Abi (suami saya) nggak pernah ngajak saya cari Ketoprak. Eh, ralat, mungkin karena saya pulangnya pas lebaran jadi tukang ketopraknya juga lagi libur lebaran. Heran, bener loh, kalau saya pulang ke Parung dan diajak jalan-jalan ke kota (secara rumah mertua di pelosok desa), nggak ada orang jual ketoprak. Dua tahun lalu pernah sih main ke rumah sodara di daerah..... aduh daerah mana ya? Pokoknya di daerah Jakarta Selatan gitu, deh. Nggak ada orang jual ketoprak. Akhirnya rasa penasaran saya terjawab sudah. Beberapa hari lalu, waktu saya sedang menuju ke kantor dan lewat di sepanjang jalan Margorejo Indah, eh ternyata mata ini membaca sebuah tulisan besar di papan kayu yang ditempelkan di sebuah gerobak dorong. KETOPRAK. Hupla! Ya, KETOPRAK. Seketika saya mengerem laju motor saya dan berputar sedikit menuju gerobak bertuliskan KETOPRAK itu. Hem, ternyata ketoprak itu nggak jauh beda sama Gado-gado Jakarta. Gado-gado kalau orang Sunda bilangnya Lotek. Kalau mentah disebut Karedok. Isi Ketoprak adalah tahu rebus, lontong, tauge, irisan mentimun, dan kerupuk udang yang ukurannya kecil-kecil, terus disiram dengan bumbu kacang. Bumbu kacangnya nggak langsung jadi, lho. Itu bapak yang jualan Ketoprak ambil piring lalu ngambil satu sendok besar kacang tanah yang sudah digoreng dan ditumbuh setengah kasar dan diletakkan di piring. Kemudian ditambahkan cabe sesuai pesanan pembeli. Lalu bumbu kacang dan cabe diulek langsung di atas piring dan diberi sedikit air. Walah, saya sempet khawatir piringnya pecah (tapi ternyata nggak tuh). Setelah bumbu jadi, baru disiramkan di atas bahan-bahan yang sudah saya sebutkan tadi. Rasanya? Nyam...nyam.... enak kayak rujak ulek. Ulekan bumbunya sedep. Terbayar sudah rasa penasaran saya. He...he.....
Selasa 16 September mungkin adalah hari sial saya. Saya harus menghadapi beberapa kasir di kantor ORIFLAME yang mungkin tidak pernah mendapat pelatihan bagaimana melayani konsumen atau pelanggan dengan cara yang layak. Ditegur atas sebuah kesalahan malah kengototan yang dipertahankan dan mencoba mendikte pelanggan. Pada akhirnya saya memilih mengalah karena percuma memperpanjang debat dengan kasir yang tidak pernah dapat edukasi tentang pelayanan kepada pelanggan. Herannya, supervisi yang berada tak jauh dari kasir, tak beranjak dari kursinya. Hebatnya, sang kasir berusaha menyelesaikan sendiri seolah dia yang paling tahu dan kesalahan tidak menjadi tanggung jawabnya. Saya bertransaksi lewat pendebetan rekening. Transaksi belum selesai, ada seorang kasir bodoh lainnya yang tiba-tiba menggesekkan kartu orang lain tanpa melihat bahwa mesin sedang dipakai. Rasanya kasir itu kasir baru karena bulan kemarin saya belum melihatnya. Si kasir pertama yang menangani saya sempat menegurnya dan kemudian menggesek ulang kartu ATM saya. Saya sempat menegur dan kasir itu ngotot bahwa transaksi hanya satu kali saja. Oke, lantas saya meninggalkan tempat itu setelah mendapat barang yang saya beli. Di tempat terpisah saya mengecek saldo dan ternyata benar bahwa ada transaksi ganda dari rekening saya. STUPID! Saya mengumpat. Untungnya saya tidak sedang berpuasa dan kemudian saya secepat kilat kembali ke si kasir bodoh tadi. Kami berdebat tiada hasil dan pada akhirnya saya dengan amat sangat terpaksa pergi ke bank saja untuk melaporkan kejadian konyol akibat ulah kasir yang tak kalah konyol. Saya tak berhenti sampai di situ dan saya mengirimkan email dan men-cc-nya ke banyak pihak. Sekalian saja kalau ramai karena saya toh sudah sangat dirugikan dengan kekonyolan dua kasir amatiran itu. Meski belum bisa menghapuskan kekesalan, saya mencoba mengambil hikmahnya. Mungkin dengan cara ini Tuhan menegur saya agar menghemat THR saya. Dengan masalah ini, otomatis uang itu 'diamankan' Tuhan dengan caranya. Ya, rasanya memang begitu. Betul-betul pelajaran kesabaran yang gagal saya lalui. Namun sebenarnya ini bukan hanya pada masalah ujian kesabaran tapi juga profesionalitas (wah istilahnya terlalu berat buat si kasir konyol itu). Tanpa sedikitpun mereka berucap kata maaf, mereka merasa tak bersalah padahal jelas itu terjadi karena kekonyolan mereka. Akhirnya saya putuskan kirim email ke CS Pusat dan Surabaya, juga ke upline-ku dan branch manajernya, biar semua tahu kekonyolan staf-stafnya yang amatiran itu. Ini isi email yang kukirim yang 10 menit kemudian dapat tanggapan langsung dari CS-nya, hehhe: Selamat siang, Sungguh tak terduga saya mengalami kejadian yang cukup mengesalkan dan mengecewakan. Pada Selasa 16 September 2008, saya berbelanja di kantor Oriflame Surabaya Jl Panglima Sudirman 47-49 Surabaya, sekitar pukul 14.00 WIB. Kasir yang melayani di bagian orifast adalah Maya Irawan. Saya membayar invoice dengan kartu debet Mandiri sejumlah Rp 309.900.
Kasir Maya pun memproses dan proses pada mesin debet VISA sedang berjalan dan tidak ada kendala. Di tengah proses berlangsung, tiba-tiba tanpa mengecek kondisi mesin debet, kasir di sebelah kasir Maya (saya lupa namanya) menggesekkan kartu orang lain dan menekan tombol cancel. Padahal proses pendebetan sedang berlangsung.
Kasir Maya sempat menegur temannya dan kasir Maya pun mengulang kembali proses pendebetan. Saya sempat pula menegur kasir Mayar, apakah dengan didebet ulang maka rekening saya akan terdebet dua kali? Tapi kasir Maya dengan sikap cuek bilang tidak, karena bukti slip hanya keluar satu kali. "Nanti bisa dicek lewat ATM Bu kalau memang kedebet dua kali," begitu katanya.
Sepulang dari kantor Oriflame, saya ke ATM karena butuh uang tunai untuk membayar sesuatu. Tapi alangkah kagetnya karena rekening saya dengan saldo Rp 1.031.000 tinggal Rp 411.000. Berarti ada dua kali transaksi dan setelah saya cek lewat internet banking (atas bantuan Bp Dicky dari Oriflame) ternyata betul rekening saya terdebet dua kali ke rekening Oriflame.
Dengan print out internet banking, saya disarankan Bp Dicky menemui Bp Medi. Bapak Medi menerima laporan saya dan sempat berjanji bahwa kalau memang hari itu ada kelebihan pembayaran maka esoknya uang saya bisa kembali.
Yang sangat saya sesalkan adalah sikap kasir yang ngotot bahwa yang bermasalah adalah mesin debetnya dan ia menjelaskan jika kejadian ini bukan kali pertama. Ia sama sekali tidak mengucapkan maaf bahkan ketika saya ngotot bilang bahwa kejadian ini tidak akan terjadi jika bukan keteledoran temannya (kasir di bagian pendaftaran baru) yang main serobot mesin debet yang sedang memproses transaksi saya. Saya yakin karena keteledoran kasir temannya Maya itu kejadian ini tidak ada. Karena sebelum saya, ada seorang ibu yang juga membayar dengan debet Mandiri dan tidak ada masalah dengan jaringannya.
Herannya, temannya kasir Maya tadi hanya diam saja dan cuek (atau pura2 tidak dengar) ketika saya berdebat dengan kasir Maya yang terus menerus nyerocos menjelaskan kalau itu adalah kesalahan pada mesin debet (pihak bank).
Esoknya, Rabu 17 September 2008, saya ke Bank Mandiri cabang Bratang Binangun dan melaporkan kejadian ini ke Customer Service. Oleh CS dijelaskan bahwa pada Selasa 16 Sept, tidak ada kerusakan jaringan atau tidak ada masalah apapun dengan transaksi debet VISA.
Jika mesin debet sedang berjalan dan belum 100 persen selesai padahal server pusat sudah menyetujui transaksi, kemudian dicancel tiba-tiba, otomatis slip yang keluar hanya satu yaitu slip debet ulang. Sedangkan slip pertama tidak bisa keluar karena sudah dicancel dulu sebelum proses transaksi benar-benar selesai. Sementara si kasir dan supervisinya ngotot Oriflame berpegang pada slip yang keluar hanya satu.
Saya sangat kecewa dan kesal sekali. Waktu saya habis untuk urusan ini. Mungkin buat mereka uang Rp 300.000 tidak seberapa tapi buat saya sangat berharga dan saya butuhkan untuk menyelesaikan tagihan lain.
Saya kecewa karena saya merasa terutama pada sikap kasir yang ngotot dan membela diri bahwa itu bukan kesalahannya (ataupun temannya yang ceroboh itu). Tidak ada sama sekali upaya kasir Maya untuk membantu saya atau minta bantuan pada supervisinya saat itu juga dan memilih memperpanjang debat dengan saya. Saya enggan ke customer care Oriflame karena antrean yang panjang dan saya tidak yakin mereka bisa memberi solusi yang melegakan. Toh, saya kerap melihat mereka yang komplain juga ditanggapi datar2 saja oleh petugas CS di sana.
Saya sekarang harus menunggu maksimal 40 hari kerja karena pihak bank harus melakukan konfirmasi. Beginikah pelayanan Oriflame yang katanya perusahaan bonafide dan ternama yang ternyata cuma mengejar keuntungan belaka? Keramahan dan kepedulian pada pelanggannya tidak saya dapatkan.
Saya masih berharap ada pihak Oriflame yang peduli dengan masalah ini. Terima kasih.

|  | Foto-foto lagi bareng temen-temen. Ada yg abis makan-makan, hangout, dan tempat-tempat happening dg orang-orang yg happening juga |
Ku Ingin Anak Lelakiku Menirumu Oleh : Neno Warisman - 'Izinkan Aku Bertutur' Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya: "Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!" Suamiku menjawab: "Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku." Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa. Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatam kan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: "Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah." Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: "Oh ya. Ide bagus itu." Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa.Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya. Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika. Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima. Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah. Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya. Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu: "Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!" Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. "Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!" Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih dihatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, "Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!" Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu. Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini.Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya. Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: "Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!" Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam. Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, "Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?" Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu? Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba. Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, "Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan. Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: "Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang." Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi. Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku. Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak,jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu! Amin, alhamdulillah Kalau tak kenal siapa perempuan ini, sebutlah namanya Dee. Dee merintis karier keartisan sebagai penyanyi di sebuah trio yang semuanya cewek. Ya, RSD. Trio ini sangat tersohor di tahun 1990-an. Lagu-lagunya berirama pop dan cenderung melow. Sederhana tapi enak di kuping. Aku adalah salah satu penggemarnya. Tahun ini, Dee, salah satu personel RSD yang sekarang sudah bubar, tengah menghadapi sebuah ujian hidup. Ujian hidup adalah istilah dari aku pribadi dan persepsi pribadiku karena belum tentu Dee juga bilang begitu. Ya, perceraian. Dee bercerai dengan Marcel yang juga seorang penyanyi. Perceraian mereka sangat kontroversial karena memang sebelumnya tak ada angin dan tiada hujan. Aku kemudian ingat ketika di penghujung tahun 2007, paranormal Mama Lauren seperti biasa mengatakan hasil penerawangannya untuk tahun 2008. Katanya (dengan bantuan Tuhan tentunya), ada banyak artis yang tiba-tiba bercerai tanpa ada kasak kusuknya. Istilahnya, tak ada angin dan tak ada hujan tiba-tiba ada berita perceraian. Kisah itu (perceraian), ia tuliskan dalam blognya. Astaga, ternyata yang meninggalkan komentar di postingnya berjudul Perpisahan, hingga ratusan. Beberapa mencoba mengerti tapi lebih banyak komentar bernada menghakimi meski dilakukan secara halus. Mungkin mereka agak segan mengomentari kasar mengingat sosok Dee yang karismatik dan selama ini bersih dari gosip negatif. Sekali lagi ini persepsiku. Herannya, membaca komentar-komentar itu aku berasa menjadi Dee. Beberapa postingan membuat aku jengkel atau terlecut emosi. Lepas dari aku adalah penggemar Dee, rasanya kok tak layak ya mengomentari dengan nada menghakimi dan sok tahu akan persoalan pribadi orang lain? Toh, mereka yang menghakimi dan merespon negatif kejujuran Dee hanya menilai dari kulitnya saja. Mereka sendiri tidak tahu apa yang sebenar-benarnya terjadi dan yang dialami Dee dan Marcel. Aku yakin, Dee dan Marcel adalah dua pribadi matang yang takkan ambil keputusan gegabah. Keputusan bercerai adalah keputusan amat sangat sulit bagi pasangan menikah, apapun alasannya. Ada yang sok yakin berkomentar bahwa Dee tidak menghargai lembaga perkawinan. Seorang wanita mengatakan bahwa wanita baik adalah wanita yang mampu mempertahankan perkawinannya. Itu berdasarkan nasihat neneknya yang hidup di zaman yang jauh berbeda. Aku tertawa. Benarkah wanita disebut wanita baik jika bisa mempertahankan perkawinannya mati-matian meski perkawinan itu sendiri bobrok di dalam? Ah, sangat lugu. Menurutku bukan wanita baik, tapi wanita yang tak punya pilihan lain. Kenapa aku berpendapat begini? Ya, tentu saja karena aku terlalu sering melihat wanita-wanita yang demikian. Wanita-wanita yang mungkin saking inginnya disebut wanita baik sehingga mempertahankan perkawinannya sedemikian rupa, meski rusak di dalamnya. Ini persepsiku. Sebenarnya kalau mau terang-terangan, aku lebih suka menyebut wanita demikian adalah wanita bodoh. Wanita yang terbiasa bergantung pada sosok lelaki. Kalau istri memilih bercerai, ia akan kehilangan status sebagai istri Pak Anu yang seorang pejabat. Kalau istri memilih bercerai, maka status janda buatnya amatlah memalukan, meski status janda itu ia peroleh untuk menjaga harga dirinya. Yang memilih tidak bercerai, alasannya adalah karena anak dan ketergantungan ekonomi. Itu yang sering keluar dari mulut para wanita 'baik' itu. Sekali lagi, tidak perlu mencari-cari alasan demi anak-anak jika ingin mempertahankan perkawinan. Carilah argumentasi yang lebih cerdas untuk menjawab pertanyaan kenapa masih saja mempertahankan perkawinan yang sudah bobrok. Demi Tuhan, sebagai wanita aku kasihan dengan mereka. Bahkan aku tak habis mengerti, kenapa 'wanita baik' yang bisa mencari penghidupan sendiri, yang punya karier bagus, memilih mempertahankan perkawinan bobroknya? Status, malu, tak sanggup jadi janda, atau alasan apalah untuk pembenarannya? Merekapun membiarkan pasangannya berbuat seenaknya. Selingkuh berulang kali, kasar, suka mengumpat istri, menganggap istri seperti budak yang bisa ia perlakukan seenaknya? Begitukah yang dinamakan hubungan suami dan istri? Begitukah yang disebut perkawinan? Di balik semua keputusan kontroversialnya (bagi orang lain), aku angkat topi bagi Dee. Betapapun bersikap jujur dan berani itu sulit. Bahwa Dee mengakui kelemahannya sebagai manusia yang tak bisa mempertahankan perkawinan meski sudah kerap mencoba, adalah sebuah keberanian yang luar biasa. Jangan pula dianggap bahwa aku mendukung perceraian dan mendukung gerakan feminisme ala Barat yang meminta wanita sejajar dengan pria dalam berbagai hal. Aku adalah seorang istri dari seorang suami yang begitu mencintaiku, dengan banyak kekuranganku. Aku akan mempertahankan perkawinanku, dengan cara terus menerus belajar memperbaiki diri, begitupun suamiku yang terus membuktikan besarnya cintanya kepadaku lewat perbuatan nyata. Bukan lewat hadiah-hadiah mahal. Bukan lewat bunga mawar segar di ranjangku. Bukan lewat rangkaian puisi-puisi cinta yang ia persembahkan buatku. Buatku, perkawinan adalah sarana belajar saling melengkapi dan memperbaiki diri. Itu harus dilakukan oleh suami dan istri. Tidak hanya satu sisi. Ketika sisi lain berhenti memperbaiki diri, pincanglah sudah perkawinan itu, dan ketika berulang kali satu sisi itu menuntun sisi lain yang pasif tapi tidak pernah berhasil, selesai sudah perkawinan itu. Tidak perlu menunggu. Tidak perlu menimbang dan mencari alasan pembenar terlalu lama. Makin lama waktu yang kita sia-siakan, makin sia-sia hidup kita. Bukankah kita tak pernah tahu sepanjang apa usia kita? Kapan kita mati? Jadi, kenapa harus menunggu 'kebahagiaan' yang semestinya kita nikmati dalam hidup ini? Heran... masih saja banyak pembuat kebijakan lokal yang berpikiran picik. Mereka membuat aturan melarang berjualan makanan di siang hari di bulan Ramadan. Saya tertawa. Lha apa urusannya puasa dengan tetap jualan makanan dan minuman di siang bolong? Peraturan yang justru menunjukkan arogansi kaum mayoritas. Menurut saya, ibadah puasa itu masuk ranah pribadi. Puasa atau tidak seseorang yang beragama Islam, itu sudah bukan urusan pemerintah. Ah, seperti kurang kerjaan saja pemerintah itu. Bayangkan, berapa kerugian pedagang makanan dan minuman dilarang berjualan mamin di siang hari saat bulan puasa? Kalau mereka baru boleh buka sekitar jam 3 atau 4 sore, keuntungan pasti minim. Buka di siang hari saja belum tentu memberi banyak keuntungan. Inilah yang saya sebut arogansi kaum mayoritas. Tidak semua orang berpuasa kan, di bulan Ramadan? Hei, bukankah Indonesia ini negara dengan beragam agama dan kepercayaan? Pemeluk Islam yang berpuasa lah..kok semua juga disuruh puasa? Kebijakan yang patut direformasi total. Apakah dengan melarang berjualan mamin di siang hari di bulan Ramadan kemudian mereka ingin disebut menghargai bulan Ramadan? Menunjukkan ketaatan pada agama? Halahhhh..... percumalah tiba-tiba berubah taat cuma di bulan puasa. Ketika di hari lain, perilaku menyakiti orang lain, korupsi, sewenang-wenang, arogan, membuat onar, tetap saja dilakukan. Kembali lagi bahwa puasa itu ibadah pribadi. Hal yang privat yang dilakukan seorang hamba pada Tuhannya. Tidak ada kaitannya pula urusan menghargai bulan puasa dengan larangan berjualan mamin di siang hari. Menghormati bulan puasa tak lantas harus menutup rezeki. Yang berpuasa silakan berpuasa. Yang tidak, juga tak ada masalah. Tergoda atau tidak, itu sudah menjadi tanggung jawab setiap orang. Pemerintah jangan sok merasa ikut bertanggung jawab dengan dosa yang dibikin rakyatnya. Ah, sudahlah.... peraturan yang selalu dikeluarkan setiap tahun itu membuat saya muak. Kita ini selalu saja ingin dianggap bangsa yang bermoral dan beragama dengan memamer-mamerkan ibadah agar dilihat orang lain. Peraturan itu termasuk juga pamer kesalihan. Saya sih nggak masalah ketika di bulan puasa, warung dan restoran tetap buka seperti biasa. Pakai tirai atau tidak, tidak jadi persoalan. Mau makan di depan orang berpuasa itu juga urusan masing-masing. Yang mau ibadah ya ibadah saja. Tidak usah memaksa-maksa orang menghormati kita yang sedang beribadah. Mau puasa ya puasa saja. Tak usah memaksa orang untuk ikut berpuasa juga. Saya pikir, kalau kita sudah berniat Lillahi Ta'ala beribadah, mau ada godaan segede apapun tetap saja tidak mempan. Justru menjadi ujian apakah ibadah kita hanya demi ketaatan hamba kepada Tuhan, atau sekadar ingin dilihat dan dipuji orang. Melarang lokalisasi beroperasi di bulan puasa. Ah, ini lagi malah lucu dan membuat saya tambah terpingkal-pingkal. Bertobat kok setahun sekali dan cuma sebulan. Lha, yang sebelas bulan ngapain aja??????? Lucu dan lucu. Mestinya melarang berbuat maksiat ya harus terus dilakukan, mau itu di bulan Ramadan atau di luar bulan Ramadan. Ibadah kok milih-milih waktu? Justru, menurut saya, puasa di luar bulan Ramadan itu yang berat. Misalnya, nih, puasa sunah Senin dan Kamis, atau puasa Daud. Mereka yang menjalankan puasa sunah ini malah nggak keliatan. Berpuasa sendirian sementara orang lain enak-enak makan. Kalau puasa Ramadan sih sebenarnya jauh lebih enteng. Jam kerja dikurangi, jam belajar di sekolah dikurangi, warung-warung makan pada tutup siang hari, sebagian besar orang berpuasa sehingga kita banyak temannya, dan malah bos cenderung memahami kalau siang hari kita menguap melulu di kantor karena ngantuk akibat puasa. Jadi, intinya, saya menolak keras larangan jualan mamin di siang hari di bulan puasa. Masak, sih, kita ini niat beribadah kok malah menutup rezeki orang lain?
Satu-satunya kalimat yang pas saat ini adalah, PEMERINTAH NGGAK BECUS. Saya heran, katanya Indonesia ini banyak orang pintar. Menteri-menterinya juga pintar-pintar, tapi kok ya nggak bisa menyelesaikan persoalan elpiji??????? Orang kecil disuruh beralih dari pemakaian minyak tanah ke elpiji tiga kilogram dengan janji-janji manis bahwa elpiji jauh lebih hemat dan menguntungkan. Nyatanya??? Toh, antrean panjang elpiji 3 kilogram ya tetap panjang. Harga makin lama makin naik. Pertamina beralasan masih merugi dan subsidi buat elpiji masih terlalu besar. Katanya mestinya pemerintah tidak mensubsidi elpiji karena yang bisa pakai elpiji orang mampu. PEMERINTAH NGGAK BECUS! Perusahaan yang dimonopoli seperti PLN dan PERTAMINA mestinya bisa meringankan rakyatnya dan memberi kemakmuran buat negaranya. Lha ini, logika sudah terbalik-balik. Perusahaan monopoli yang nggak punya pesaing mestinya kan bisa mengelola dengan baik dan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, lha kok berdalih selalu merugi. Bulshittt!!!! Kalau selalu merugi, kok ya yang kerja di sana apalagi pejabat-pejabatnya gonta-ganti mobil? Mestinya dengan monopoli, mereka bisa mengelola perusahaan dengan baik. Bulshitlah. Ya pastilah selalu merugi karena hasilnya selalu dikorupsi buat setor sana setor sini. Era sudah berganti, tapi mental mereka masih saja mental korup. Merekalah yang sesungguhnya pengkhianat bangsa dan patut dihukum seumur hidup (kalau perlu hukuman mati). Tangan-tangan mereka dikotori uang haram yang didapatkan dari memeras keringat rakyat. PEMERINTAH NGGAK BECUS! Sayang sekali, presiden kita saat ini lebih pandai tebar pesona. Mengomentari hal-hal remeh yang tak perlu, sementara hal-hal yang urgent terkesan dibiarkan mengambang. Rakyat disuruh sabar....sabar... dan sabar. Rakyat disuruh memahami dan disuruh pula berhemat. Sementara rakyatnya berhemat, pejabatnya tetap berfoya-foya, menggelar pesta pernikahan anaknya hingga miliaran rupiah. PEMERINTAH NGGAK BECUS! Jangan ada pejabat pemerintah atau mereka yang bekerja di pemerintahan yang tersinggung dan merasa terhina. Koreksi dirilah karena nyatanya memang PEMERINTAH NGGAK BECUS! Inilah hasilnya jika memilih pemimpin negara hanya berdasarkan tampang yang gagah dan senyum yang diarif-arifkan. Bukan presiden yang punya visi jauh ke depan dan hanya berbuat untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Coba, tunggu saja apa lagi manuver pemerintah untuk mencekik rakyatnya! Tunggu saja, harus sesabar apa rakyat atas permintaan para pejabat dan pemimpinnya dengan dalih negara sedang prihatin! Tunggu saja, apa lagi pengorbanan rakyat yang diminta pemerintah dengan dalih nasionalisme yang hanya omong kosong! Hidup mereka, para pemimpin yang korup, pemimpin yang tidak adil, dan pemimpin yang biadab, tak akan pernah tenang. Keluarga mereka tak akan pernah beroleh kebahagiaan. Karena apa yang mereka makan, kemewahan yang mereka nikmati, adalah cucuran keringat dan air mata rakyatnya yang teraniaya. Doa orang teraniaya makbul dan pasti diterima Yangkuasa.
Ah, kalau nggak bakat nggak bisa!
Seorang teman mengatakan itu ketika kami membicarakan soal merancang busana. Buat teman saya, bakat itu jadi modal besar. Buat saya, tidak selalu.
Tidak bisa! Dua kata itu yang benar-benar saya usahakan untuk dihindari. Tidak ada yang tidak bisa kalau kita mau berusaha, itu yang saya tanamkan terus menerus di otak. Tidak bisa menurut saya adalah kalimatnya orang yang putus asa dan tidak percaya ada tangan Tuhan yang bekerja.
Tidak bisa! Kalau sudah bilang begitu, menurut saya lebih baik mati saja. Untuk apa hidup kalau belum mencoba sampai berhasil sudah bilang tidak bisa. Memang kadang tak mudah untuk menjadi orang yang gigih dan pantang menyerah, tapi harus diupayakan.
Tidak bisa! Ya, setelah pengalaman saya hampir tenggelam di kolam renang semasih SMA, sejak saat itu saya selalu berkata bahwa saya tidak bisa berenang. Namun dalam lubuk hati ini seolah ada yang membantahnya, bahwa saya pasti bisa berenang.
Entah kekuatan dari mana, sekitar sebulan lalu, saya memberanikan diri berangkat berenang tanpa ditemani papan pelampung yang biasa saya bawa ketika berenang. Berbekal nekat dan keinginan kuat untuk bisa berenang, sayapun menceburkan diri dan mencoba mengingat kembali pelajaran berenang yang sempat saya dapatkan dari teman akrab sekaligus sedikit praktik renang yang sedikit bisa saya lakukan.
Sayapun asyik mengamati beberapa anak usia SD yang tengah belajar berenang. Saya amati pula mereka-mereka yang tengah berenang dengan berbagai gaya. Cara mereka menggerakkan tangan, menggerakkan kaki, mengambil napas, dan semua gerak-gerik ketika tubuh di dalam air.
Entah kekuatan apa yang membuat saya benar-benar berani menyingkirkan semua ketakutan saya. Saya biarkan tubuh ini tenggelam tanpa pemberontakan, kemudian saya ringankan tubuh seolah seperti tiada tenaga. Hupla.....saya mengambang dan mulailah saya menggerakkan kaki dan tangan saya sembari bersusah payah mengambil napas ketika kepala menyembul keluar.
Hanya butuh waktu tiga kali latihan dengan per sesi selama satu jam, akhirnya saya benar-benar bisa berenang. Ya...benar-benar berenang! Saya bertepuk tangan memberi selamat pada diri sendiri yang sukses menyingkirkan ketakutan dan kalimat tidak bisa yang selalu tertanam dalam diri saya.
Nyatanya, memang tidak ada yang tidak bisa ketika kita mau mencoba. Bukan tidak bisa tapi kita tidak mau yang sering menjadi penghambat kita untuk sukses atau selangkah lebih maju.
Sudah tiga kali saya berenang di bagian kolam yang terdalam, tiga meter. Ya...saya akhirnya bisa dan berani. Saya berhasil menyingkirkan rasa takut saya dengan air karena pengalaman pernah tenggelam. Kini saya sedang belajar mencebur ke kolam dengan cara melompat meski masih sedikit ngeri.
Semua bisa... asalkan kita mau berusaha. Semua bisa asalkan kita bilang kita pasti bisa. Saya bisa! Saya bisa! Saya bisa!
Wah, ada berita mencengangkan. Satu bos di kantor bakal hengkang. Yang cukup bikin kejutan, ternyata tempat barunya nanti adalah tempat yang semula ia katakan tidak cocok dengan idealismenya. Ah, ternyata sekarang persetan dengan idealisme. Persetan pula dengan hati nurani. Persetan dengan urusan kemanusiaan. Betapa uang benar-benar berkekuasaan penuh. Satu lagi rasa simpatik ini berkurang dan kian menipis. Bermula dari makin subjektifnya dia menilai seseorang. Kemudian, iklim kerja di tempat lamanya dimana dia belasan tahun dibesarkan, dibawa ke kantor sekarang. Yang dia suka, akan selalu dia kasih banyak kesempatan. Begitulah, manusia. Waktu jualah yang mengubahnya. Berubah menjadi lebih baik, berarti manusia itu adalah manusia yang beruntung. Tak lebih baik, bolehlah disebut bebal dan dungu bak keledai. Karena kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik itu selalu ada, asal manusia tak silau dengan kesenangan dunia dan hawa nafsunya. Mungkin, suatu ketika saya juga akan mengalaminya. Berada di tengah pilihan yang begitu menggoda. Akan memilih yang mana? Mudah-mudahan saya tak memilih menggadaikan harga diri dan nurani. Entahlah.....
Di awal kariernya, sebenarnya saya cukup simpatik dengan penyanyi yang sekarang lebih tenar disebut DP. Anaknya cantik, seksi, dan suaranya yang serak-serak basah itu enak didengar. Namun, makin lama saya makin muak dengan si DP ini. Gayanya makin tak terkontrol, apalagi cara berbusananya. DP ngotot, bahwa aksi umbar aurat di atas panggung yang kerap dilakukannya, hanyalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai entertainer. Ia mohon dimaklumi karena katanya, begitulah lazimnya entertainer Indonesia dalam berpakaian. Itu hanya hiburan. Duh, kepala ini puyeng dan geregetan mendengar komentar-komentarnya dan gaya bicaranya yang luar biasa. Ya... ia pandai memainkan kata-kata dan pandai beretorika. Malah saya yakin betul, ia kerap tidak terlalu paham apa yang diucapkannya. Bisa jadi ucapannya menanggapi tudingan miring yang dialamatkan padanya, hanya ia tirukan dari orang-orang terdekatnya yang ia akui sebagai pendukung kariernya, sementara menurut saya hanyalah sekumpulan orang yang menangguk untung atas cucuran keringatnya bergoyang gergaji. Apa penggemar hiburan di Indonesia ini sama menurutnya? Suka dengan dada yang menyembul separo dari kemben atau gaun superketat yang kerap dikenakan DP sebagai kostum panggungnya? Apa semua orang Indonesia suka dengan goyangan penggugah birahi dan syahwat seperti yang sering dilakukannya? DP...DP.... Anda ini sebenarnya tidaklah cerdas dan pintar. Hanya saja Anda ini pintar bicara. Bahkan, kalimat-kalimat yang Anda lontarkan sering rancu dan tidak konsisten. Anda bisa menyebut-nyebut nama Tuhan dan ikhlas sebagai tameng aksi panggung Anda yang bak penari streaptease di klub-klub malam. Masih mending penari streaptease yang menyadari bahwa pekerjaan mereka bukanlah pekerjaan mulia. Sementara DP selalu ngotot bahwa pekerjaannya dengan menggoyang-goyangkan pantat, mengumbar dada, dan wajah mesumnya, adalah pekerjaan yang mulia. Saya tidak paham, bagaimana orangtuanya membiarkan sang anak berperilaku menyimpang. Ya, ini bahasa saya karena perilaku DP pantaslah dianggap menyimpang. Tidak cukupkah teguran dari Tuhan yang sering disebutnya? Ada seorang penggemar yang berusaha mencolek bagian dada yang sering ia umbar di atas panggung hingga terjadi lebih dari sekali peristiwa kemben melorot. Banyak penguasa wilayah yang menolak kehadirannya untuk manggung. Ada pengusaha yang katanya melecehkannya karena menyuruhnya untuk telanjang. Saya heran, begitu sulitnya ia mengoreksi diri dan merangkaikan semua kejadian tidak mengenakkan yang terjadi padanya sebagai teguran Tuhan. Mantan suaminya berkali-kali menggugat cerai dirinya karena omongannya tak pernah digubris. Ia bahkan membela diri dan ganti menghujat sang suami (dulu) sebagai laki-laki tak bertanggung jawab karena menggugat cerai dia beberapa kali dan mempermalukannya. Saya sangat yakin, ada banyak orang-orang di sekitarnya yang memberinya pengaruh negatif. Mereka memberi masukan-masukan salah sehingga DP makin tak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang harus diikuti dan mana yang harus ditinggalkan. Pada akhirnya saya merasa kasihan padanya. Sesungguhnya ia artis yang begitu potensial. Tanpa menggeal-geolkan pinggul dan pantatnya secara berlebihan, ia tetap bisa menjaring banyak penggemar dan kariernya tetap mencorong. Sayang bin sayang, ia memilih jalan sesat yang ia katakan sebagai tanggung jawab seorang entertainer. Tragis dan ironis. Dua kalimat itu yang ada di benak saya ketika melihat apa yang tengah terjadi pada diri HMZ Yuli Nursanto, calon Bupati Ponorogo pada pilkada 2005 lalu. Ia diduga menderita depresi akibat kasus utang piutang miliaran, imbas dari kekalahannya dalam pilkada.
Ah, Pak Yuli. Kenapa engkau menjadikan politik sebagai investasi dan komoditas yang pada akhirnya menjerumuskan Anda ke lubang masalah? Bahwa terjun ke politik harus punya modal, itu benar. Sayang, Anda tidak sempat mempertimbangkan risiko atas pilihan Anda.
Saya jadi lega meski sembari mengelus dada. Beberapa hari lalu, saya berencana mendaftarkan diri menjadi caleg dari sebuah partai yang memang sejak dulu menarik simpati saya hingga memilihnya dalam pemilihan umum di zaman reformasi. Suami sayalah yang giat mendorong karena saat ini, semua partai tengah merangkul kader-kader perempuan dan memenuhi kuota keterwakilan perempuan dalam pemilihan legislatif 2009 nanti.
Sejujurnya, saya ingin mengamalkan ilmu yang sudah saya peroleh selama kuliah. Saya adalah sarjana ilmu politik di sebuah universitas negeri di Surabaya. Namun, selama saya menjalani profesi sebagai reporter di sebuah harian pagi lokal di Surabaya juga, saya malah lebih banyak terjun di wilayah liputan gaya hidup dan perempuan. Alhasil, ilmu selama saya kuliah terabaikan begitu saja.
Namun hati nurani saya seakan mencegah. Sejujurnya, saya tidak bisa membayangkan perjuangan seperti apa yang harus saya lakukan. Saya butuh komitmen tinggi, waktu, dan yang pasti modal materi. Sesedikitnya pasti saya harus menyediakan modal materi.
Dede Yusuf saja terpaksa menggadaikan salah satu vila miliknya untuk keperluan pencalonan sebagai wakil gubernur Jawa Barat. Rano Karno mengeluarkan ratusan juta rupiah (ini sih masih belum seberapa) untuk pencalonan sebagai wakil bupati Tangerang. Untung saja mereka berdua jadi dan yang pasti modal mudah kembali.
Andai mereka tak jadi, mereka harus siap mengkalkulasi, berapa dana yang harus mereka kembalikan dari pihak debitur yang mengongkosi mereka. Tidak mungkin duit sekian ratus juga berasal dari kocek mereka sendiri.
Salah seorang rekan saya yang kini menjadi Ketua DPW salah satu partai terkenal di Surabaya, mengaku harus merelakan uang Rp 200 juta untuk mengongkosi pencalonannya sebagai caleg propinsi. Ternyata, nasib baik belum berpihak padanya. Masih untung dia seorang pengusaha sukses sehingga uang yang nilainya bisa dibelikan rumah di perumahan menengah (ke atas) itu mudah saja ia ikhlaskan.
Si Bapak Yuli benar-benar apes. Perhitungannya kurang matang dan akhirnya harus menyesali ambisinya. Kini, tidurnya tak bakalan bisa nyenyak dan hidupnya tak bakalan bisa tenang karena harus menangguk utang dan kasus hukum yang mengancamnya pada jeratan pidana.
Hati saya miris. Melihat Bapak Yuli menangis dan berteriak-teriak minta mati atau dibunuh. Saya mengerti, karena dalam kondisi seperti dirinya memang lebih baik mati saja daripada hidup menanggung malu dan hutang yang entah bisa dikembalikannya atau tidak (rasanya sih memang nggak bertanggung jawab).
Ini sebenarnya sebuah ironi yang menunjukkan wajah dunia politik di Indonesia. Bahwa jika ingin 'menjadi sesuatu' harus ada ongkosnya. Semua diukur pula dari uang.
Maklum saja jika kemudian mereka yang 'jadi' melakukan korupsi alias markup proyek. Tidak lain karena itulah cara untuk mengembalikan modal mereka sebelum menduduki kursi empuk kekuasaan.
Itu pula sebabnya korupsi sulit diberantas. Karena mau apa saja perlu uang. Mau jadi wakil rakyat juga perlu uang. Kalaupun uang terbatas, janji kepada kroni-kroni yang membantu sebagai tim sukses adalah imbalannya. Tak heran jika para calon yang kemudian 'jadi' memberikan proyek-proyek bernilai miliaran kepada para kroni yang sudah membantunya duduk di kursi kekuasaan.
Aduh, ini lagi. Dari semalam cowok ini sudah bikin saya menahan kesal sebisa mungkin. Besoknya undang jumpa pers buat acaranya. Eh, saya minta undangan berupa faksimili atau email, dia bilang oke, tapi sampai jam setengah dua belas malam juga belum sampai satupun via yang ia sebutkan tadi. Esoknya, dia bilang apa saya bisa datang? Kalau tidak bisa apa saya bisa usahakan agar berita dimuat besoknya? Apa lagi ini? Aduh, saya harus berhadapan dengan PR yang model begini. Wah, ini pasti anak nggak pernah punya pengalaman soal invite wartawan dan sekaligus sopan santunnya. Minta dimuat? Hem, memangnya dia sudah berapa kali pasang iklan di tempat saya sampai-sampai punya kuasa buat dimuat? Sementara janji kirim undangan via faksimili dan email saja dia nggak lakukan. Sabar..sabar.....PR kayak gini perlu dapat training khusus nih, he..he.... Saya paling benci kalau ada pengundang yang minta-minta beritanya harus dimuat besok. Kecuali kalau dia pasang iklan gede ataupun kecil di tempat saya.
 | Guestbook | |
 | asw...mbak maaf add saya dong saya kurang mengerti multiply,,,bisa kontak saya di email saya.annisamuqatilah@yahoo.co.id |
| LOOVY LOVELY ONLINE SHOP!! SKARANG ADAIN MEMBERCARD SHIP LOOVY LOVELY PARA PEMEGANG MEMBERCARD BERHAK MENDAPATKAN DISCOUNT!! MAU TAU CARANYA? BACA BLOG LOOVY LOVELY YA...
^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..
READY STOK Kyoto Premium whitening soap, Sabun kecantikan dari Jepang untuk menghilangkan flek wajah..
^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..
READY STOK NECKLINE SLIMMER!!!! - Hilangkan dagu berlipat dan leher kendur yg merusak kecantikan tanpa harus operasi jutaan..!!
^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..
READY STOK SHILLS UNDERARM..penghilang hitam di ketiak, lutut, siku, selangkangan.. buruan STOK TERBATASSS
^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..
READY STOK Intensive Moisturizing Cream, Krim Wajah siang untuk melindungi dan merawat kehalusan dan kekencangan wajah,SERTA MENGHILANGKAN PORI2 BESAR..
^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..
READY STOK Shills Miracle Lift Body Countour..New Qualified Product untuk hialngin lemak2 di bagian2 tubuh yg mengganggu keindahan tubuh..
NEW READY STOK SHILLS BB CREAM BRIGHTENING..bagus banget unutk menampilkan wajah lebih cling dan bersinar...bye bye wajah kusammm...
^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..
NEW READY STOK SHILLS BB Mineral Powder..Make your face more beautiful n Charming..Memberikan efek shimmering untuk wajah..
^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..
NEW READY STOK SHILLS BB CREAM BLOSSOM..bagus bnaget unutk kulit normal - berminyak.. untuk menutupi flek dan kekurangan pada wajah..
^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..
DISCOUNT SLAMA PREORDER LICORICE REFINING NIGHT JELLY..untuk ilangin flek, jerawat, jaga kelembababn n kehalusan wajah.. disc dari 250 jadi 230ribu saja...
^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..
NEW READY STOCK ZAMIAN MAGIC GOLD CACAO MASK..Stok Limited bangettt..
^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..
NEW READY STOK YELLOW STICK PANDA EYE!! BURUAN, HILANGKAN KANTUNG MATA HITAM YG MENGGANGGU KEINDAHAN WAJAH KITA
^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..
READY STOK MAXSLIM SLIMMING CUMA @250RIBU.. MARI LANGSING CEPAT DAN SEHAT 10KG HANYA DALAM 1 BULAN
^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..^_^..
READY STOK KYUSOKU BIHAKUi CUMA @300RIBU. JGN SAMPAI KEABISAN MAU PUTIH SEPERTI ARTIS KOREA, CHINA, JEPANG.. BURUAN KONSUMSI KYUSOKU BIHAKU...
ORDER 081932357271 |
 | Special Price For Lip Balm jadi 17,500 ONLY. Kalo ambil 3 pcs jadinya cuma @17,000....dan kalo ambilnya 4pcs keatas jadinya @16,500....Grab it Fast yaaaa......^_^ |
 | Hai Bunda ..... ^_^ Pastinya mau donk anaknya semakin smart n creative ? Atau lagi bingung cari kado buat ponakan or tetangga ? Mampir yuks ke : http://imoetedutoys.multiply.com/Banyak yang baru lho ... ada gitar elmo, shape sorter, magic cube, serial princess, dan masih banyak lagi.... buat moms yg butuh pakaian balita nurah meriah .... pas banget kalo mampir kesini ^_^ pilih2 sekarang yuks ..... stok terbatas ...... !!! Minat jadi reseller ?? Boleh.. boleh.. boleh .... Yuuuukkk!!! Jangan sampai ketinggalan... |
 | mampir yuk di dapurcantika, ada banyak cupcake, permen coklat dan semua yang enak2.... |
 | mampir juga yuks di kerudung almeeraa |
 | New Collection! Casual Moslem Clothes from Rp. 50.000! Come come! |
 | Baik mbak..msh inget donk.. wong aku juga tiap hari baca tulisanmu mbak di surya :-D gratisan lagi ;-) |
 | dita..aihhketemu disini. eh kapan cerita arek TPC muncul di Surya ??? |
 | Hi Dhita, terima kasih ya sudah menyapa di siteku. yes, suatu saat kita akan bertemu, pasti! cheers, |
 | Oalaaa jeng....ini Mp mu to?? trima kasih sudah mampir yah |
 | Panggil saya Dhita saja, Mas. Terima kasih sdh mampir. Ya, saya memang tipe pemikir, lebih pas disebut sensi. He..he...Salam akan sy sampaikan. Tetap semangat ya, Mas! |
 | Mbak Yudhita, saya sudah mampir ke blog sampeyan. Kebanyakan kontemplatif isinya. Kayaknya Mbak tipe pemikir. Tetap semangat dan kita saling belajar. Salam hangat, kapan-kapan semoga kita jumpa. Salam buat pak Abror dan Marta. (Oryza A.W) |
 | hai hai... apa kabar Surabaya? |
 | ini dita surya?? heii apa kabar? |
| |